Ayah..

Aku terlalu sakit melihat kau seperti ini, tak ada yang pernah mengira bahwa tuhan terlalu menyayangi mu hingga memberikanmu penyakit yang terlalu berat untuk menghapuskan segala kesalahan yang pernah kau lakukan, bukan hanya untuk mu, tapi juga untuk kami semua anak-anak mu. Tak ada yang pernah menyangka akan terserang saraf mu yang dapat melumpuhkan segala aktivitas yang kau lakukan sehari-hari, tidak juga kami. Kau terlalu hebat bagi kami untuk sebuah penyakit, pah.

Segala usaha kami lakukan untuk dapat membuat mu kembali menjadi seorang yang dulu, ayah yang tak pernah lelah berusaha, tak pernah gentar menyerah, tak pernah henti meminta kepada tuhan untuk kami semua, anak-anak mu. Terlalu pedih aku, untuk sadar melihat mu berhenti menaklukan dunia agar dapat kami tinggali guanya. Duduk diam dikursi rodamu yang bahkan kau beli sendiri karena kami selalu menunda untuk membelikanya untuk mu, membuatku tersiksa. Aku yakin kau masih bisa sembuh, pah. Kembali beraktifitas seperti sedia kala, kembali memarahi kami yang suka menyepelekan pendidikan, kembali membentak kami ketika kami lupa waktu ibadah.

Aku benci sikap kerasmu, tapi aku sangat mengagumi keteguhanmu dalam apapun itu, mempertahankan maratabat keluarga. Harga diri hanya dapat dibeli oleh peraturan tuhan, itu harga mati. Kita boleh miskin tak punya apa-apa, tapi jangan sampai kita dilecehkan orang. Kita bisa kaya, punya segalanya, tapi jangan pernah lupakan sholat. Begitulah kira-kira wejanganmu kepadaku, anakmu yang mungkin terlalu bengal menghadapi dunia.

Terlalu banyak dosaku menyepelekan segala nasihat mu, pah. Selalu saja masuk kuping kiri dan keluar kembali dikuping kanan, tak ada yang kuhiraukan. Dosaku terlalu melimpah terhadapmu, pah. aku menyadari itu…

Mungkin juga sakit mu itu buah dari segala dosaku sedari kecil terhadap mu.

Entah bagaimana aku dapat menebus semuanya, dapat membanggamupun aku sulit. Sebisa mungkin yang dapat kulakukan hanya menyempatkan waktu, ditengah waktu yang tersisa mungkin, hadir untuk merawatmu, merangkulmu untuk berjalan, memopoh segala keperluanmu, segalanya… bahkan jika mendorong kursi rodamu mendaki tebing untuk mengantarmu sembahyang dimasjid dekat rumah dapat menebus semua kesalahanku terhadapmu dan meringankan segala penyakit mu akan kulakukan.

Tidak pernah aku bermaksud sombong untuk menuliskan ini semua, berharap imbalan, terlebih pujian. Aku hanya ingin kau tahu, pah.. kulakukan semua itu dengan ikhlas, dengan penuh kesadaran akan semua dosaku terhadapmu. Tapi kenapa semakin hari aku melakukan semua untukmu, semakin kau berlebihan terhadap ku?, seperti semua hal yang ingin kau lakukan namun tidak bisa karena penyakitmu lantas menyuruhku untuk ku melakukannya. Tidak bermaksud untuk mengeluh, tapi segala yang kau perintahkan terhadap ku, membuat aku ini seolah ‘pelayan’mu. Sehina itukah pengabdianku kepadamu? Atau aku hanya berlebihan menganggap semua…

Maaf jika memang aku berlebihan mengartikan segala permintaanmu, pah. Tapi aku pun mempunyai kegiatanku sendiri yang terkadang tidak ingin diganggu. Aku membagi ¾ waktu ku untukmu, masih kurangkah itu? lalu kapan waktu ku mengejar segala cita untuk membanggakanmu? Bahkan jika diminta untuk memilih, berbakti kepada orang tua atau mengejar cita-cita, akan dengan tegas aku jawab yang pertama, tapi aku mohon, pah.. jangan serta merta menjadikan baktiku ini sesuatu yang percuma kulakukan karena segala perasangkaku terhadapmu. Hanya sebutir kewajaran yang kuminta darimu untuk segala keterbatasan yang dapat kulakukan untukmu, pah.. ku mohon kau mengerti.

Posting Akhir Tahun II

                29 Desember 2012

Masa itu adalah ketika kita benar-benar belajar untuk memahami semua, tidak hanya sekedar kilasan semu namun lintasan waktu yang akan menjadi sesuatu.

Semua memang akan selalu datang silih berganti, berputar pada sekian likuk persimpangan kehidupan. Mereka, atau kita yang datang pasti akan pergi. Akan selalu ada masanya bahwa pada waktunya kita hendak berfikir hanya untuk diri sendiri.

Tahun yang lama akan segera berlalu, masa yang lama hendak berganti pada era yang baru pula. Sisanya hanyalah tinggal bagaimana komitmen kita, sekalipun dalam perpisahan namun tetap pada satu alur perjuangan yang sama. Berat adalah ketika kita merasa semua itu tidak mungkin dapat dilakukan, walaupun mungkin selalu ada kata “bisa” dalam melakukan sesuatu namun sulit, itulah berat. Amanah itulah yang mungkin masih dapat kita pegang sebagai komitmen kita. Menjadikan kata “bisa” kepada taraf ringan, seperti yang biasa kita lakukan dalam lingkup amanah persahabatan. As one as united, yes we’re.

Bualan malam

Ada saat dimana aku benar benar iri
pada mereka yang telah menemukan tujuannya.
Sederhana
semua hanya akan kembali pada komitmen pribadi
tentang pilihan dan keinginan.

Aku ingin berjalan dalam rindang hutan yang lebat
sekelebat pikiranku saat ini
merasa dapat melakukan semua
namun siapa aku ini. . .
pintarpun tidak
hanya merasa hebat
sombong yang pekat
keras kepalapun melekat
memang aku ini hanya orang nekat

beberapa saat aku sadar
bahwa hanya duniaku yang seperti menyempit
pengap sudah segala yang kujelajahi
bahkan aku bosan dengan diriku sendiri
tapi
kali ini biar ku urus semua sendiri,
agar bosan itu tidak kembali menjadi sepi
biar semua berjalan
tetap seperti sampai saatnya nanti

“No one can do anything, but everyone can do something” Max Lucado.

Kemandirian yang dapat mendewasakan seseorang
lebih dari sekedar penjagaan diri
tapi juga mengembangkan potensi yang dimiliki.

kebimbangan…

kita tidak pernah tau dimana jalan ini akan berakhir
yang bisa kita pastikan hanya sesuatu yang ingin kita tuju
kemungkinan untuk tercapainya selalu berhenti pada angka 50 : 50
kemudian,,
kitalah yang menentukan
kita yang akan berpihak pada salah satunya
gagal atau berhasil,, itu relatif…
tujuan dan usaha yang membuatnya menjadi sesuatu yang aktif
yang lebih dari sekedar angan-angan pasif

semua ini hanya tentang kita
tentang siapa kita
dan akan seperti apa kita esok hari
tentang semua yang ingin kita lalui

Aku ??
aku akan tetap pada cita-cita mereka,,
karena bahagia merekalah satu yang ku ingini
hanya saja kali ini aku akan bertahan di jalan yang telah aku pilih
walau aku sendiri pun tdk tahu ini akan benar atau salah..
kesemuanya itu relatif,, bagiku..
biar ikhlas tujuan serta usahaku yang menjadikanya aktif…

Bismillah…

kupu – kupu #1

“beberapa saat lalu kulihat seekor kupu di taman bunga
mungkin banyak yang ingin bertanya, kupu-kupu di taman bunga, apa istimewanya??”

“kupu ini lain dari biasanya
sayapnya tidak berwarna biru, hijau atau jingga
seluruh warna tercampur disana.

kupu-kupu pelangi. .
kupu legendaris dari negeri mimpi
yang hanya kita dengar dari dongeng di malam hari”

“Awalnya ku hanya bisa menatapnya iri,
tanpa berani dekati sang kupu pelangi
ku takut bulu-bulu ku kan menyakiti
dan merusak sayap indahnya.”

Sumber :: http://www.kaskus.us/showpost.php?p=63560918&postcount=1406