Duka

Dunia dalam duka…
berakhir dalam lara…
derita tiada tara…

Begitulah mungkin mereka menuliskan duka…

Bagi ku,, duka tak ubahnya hadiah
Untuk semua jenis perlombaan terhebat…Kompetisi Dunia
Hadiah adalah suatu yang membanggakan
Dan memang begitulah adanya

Tuhan selalu memberikan duka dengan rasa bangga
Atas hambanya yang terhebat dari yang paling hebat
Seperti dalam perlombaan…
Ia memberika duka itu bak piala emas
Yang tak sembarang orang bisa memilikinya
Karna di berikan hanya untuk yang terhebat
Yang tak terkalahkan

Piala duka itu ajaib,,,
Dia bisa membuat manusia melaku 3 elemen yang berbeda sekaligus..
Sedih,, Senang,, dan Belajar.. dalam satu waktu… bersama…
Tapi tentu,,,
Hanya mereka yang hebat,, yang mengerti,,,

Dan aku yakinn…
Wanita yang ku sayangi itu
Pasti termasuk mereka yang hebat
Mereka yang mengerti
Karena aku sangat percaya dengannya
Seperti dia yang selalu mempercayaiku
Untuk selalu mendengar ceritanya
And i’m Happy for that.. ^_^

Sedikit tulisanku tentang duka untuknya ::

Dduutthh..
Biarkan duka itu menjadi benih yang siap tumbuh sayaang..
Hingga saatnya nantii,,
Kamu siap untuk memetiknya
Dalam bentuk yang lebih sempurna
Lebih dari sekedari benih dalam tangisan mu sayaang ku..
Yang telah siap manisnya untuk kamu nikmati
Bersama pangeran mu sayaang ku
Dalam gubuk abadiNya..
Kelak...

Maret 2011,,,
Selamat ulang tahun Dduuthh … ^^
Jangan pernah sedih lagi yaa… Janji… ^^

Ketika semua kembali rumit

Aku kembali dalam kebisuan
Menatap nanar diri yang tak bernyawa
Entahlah,,, kini semua kembali rumit
Hanya untuk meneguhkan pendirian

Aku sendiri tak pernah bisa mengerti
Tentang apa yang selama ini ku ingini
Tak pernah puas dengan segala pemberian
Sekalipun tuhan bermaksud membahagiakan

Aku hanya si bodoh dalam diam
Terpaku dalam ke-tidak berdayaan
Yang berujung pada kematian
Hingga menjadi barang usang yang di tinggalkan

Banyak hal berguna ku tinggalkan…

Hhaa..
BERGUNA...
Hhaahahhaa...

Bahkan sampai masa ini saja…
Aku hanya bisa menjadi sampah
Yang tak pernah sedikitpun diperdulikan
Oleh si pembuangnya sekali-pun

Ingin kembali aku dalam sepi
Agar ku bunuh diriku ini sendiri
Namun dalam sadar,,
Terlalu indah untuk aku pergi sendiri..
Akan ku ajak banyak orang yang kusayangi nanti
Yang mungkin sekelas sampah bodoh seperti ku ini
Tak pernah berguna…

Hhaa..
Bicara BERGUNA...
BASI..

1 mei sebelum pagi

1 mei sebelum pagi
langit menyelesaikan catatan

Kisah kita yg tertinggal di persimpangan terjal

Sebuah atmosfer berbeda pagi ini
Perubahan hari..

Kau dan kisah mu
Aku dan kisah ku
Bersama kita berucap
Janji yg telah kita tancap

Paman senja telah berlalu
Bersama kita yg sedang memalu
Menancapkan janji yg belum sempat kita selesaikan

Kau yang meninggalkan pertama
Lalu aku termenung dalam sunyi
Sendiri aku sepi
Dan kemudian pergi

Aku ingin mengikuti mu
Tapi di sebuah persimpangan
Aku mengambil jalan berbeda

Kita terpisah dipersimpangan itu
Terjal,,
Dan aku yang tertinggal

Tak apalah,,
Aku ingin kembali mengejar asa ku
~yg sempat tertunda dulu, karna mu~
Aku ingin mencipta
Hingga menjadi Pembeda

Tak ada lagi “kita”

Tak ada lagi “kita” kali ini
Hanya kau dan aku
kau dengan dunia mu
Aku dunia ku

Kita tak lagi sama lagi dalam hal cerita
Hanya kau dan aku
Kau bersama Ceritamu
Aku Cerita ku

Kita tak lagi sama dalam berbagi
Hanya kau dan aku
Kau dan bagian mu
aku bagian ku

Dan tak ada lagi “kita” dalam kisah
Hanya kau dan aku
Kau dalam kisah mu
dan aku dalam kisah ku

semua begitu berbeda
tak lagi sama
tak ada lagi “kita” dalam canda cinta dan tawa
Hanya Kau dan Aku…

Berbeda dan tak lagi sama…

Selamat jalan bintang malam ku
Kau sudah temukan apa yang kau cari
Selamat Untuk Semua
~april2011~

Tangis Untuk adikku #End

Setahun kemudian kemudian aku menikah, lalu tinggal di kota. Suamiku mengajak orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka bilang, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, dia bilang “Kak, jagalah mertuamu disana. aku akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur di pabrik tempatnya berkerja. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan, tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku mendapat pekerjaan untuk memperbaiki sebuah kabel bertenaga tinggi, seketika ia mendapat kecelekaan tersengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi menjenguknya, melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer ??, Manajer tidak akan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya ??”

Dengan wajah tersenyum, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, akan seperti apa nanti kata orang ??”

Mata suamiku dipenuhi air mata, kemudian aku menimpalinya “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?”, sambil tersenyum Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30, ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara pernikahan-nya itu bertanya kepada adikku, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berfikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
“Ketika saya pergi sekolah SD, — SD saya berada pada dusun yang berbeda. — Setiap hari saya dan kakak berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tangan saya, Kakak memberikan satu dari kepunyaannya pada ku. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaganya dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah keluar dari bibirku, dengan terbata, kucoba tuk membalasnya, “Dalam hidupku… orang.. yang paling aku berterima kasih padanya.. ialah adikku…” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan pernikahannya, air mataku kembali turun membanjiri wajahku yang terbalut kerudung merah anggun pemberiannya dulu.
Sungguh aku sangat menyayangi mu adikku…

End… 🙂

Dari dan untuk dia yang ku sayang

Ku biarkan mentari dengan sinarnya yang terang
Ku biarkan bulan dengan indahnya hiasi malam
dan ku coba tuk pelajari keduanya..

Ku biarkan diri ini menjadi bintang di kelamnya malam
coba terangi dengan sinarnya yang  temaram
menghiasi dengan dirinya yang tak pernah kelam,,,
Lalu,,
ku biarkan diri ku percaya,,
bahwa puncak kekuatan yang ku damba
ada pada tingginya asa yg ku punya..

ku biarkan bintang menjadi apa adanya..
tanpa paksa  jadi bulan atau matahari…

dan.. disinilah aku…

sang bintang yang coba terangi…
menghiasi dengan cara  sendiri..

karna bintangku,,, akan selalu menjadi bintang…
tanpa pernah bisa menjadi bulan terlebih matahari…

aku yakin…
kesemuanya itu punya caranya sendiri
tuk hiasi bumi yang ku jejaki…

— dari dan untuk Dia yang ku sayang…

pada Suatu masa,,, nanti…

Maret 2011,,

Aku kembali terpekur dalam kebisuan
tak ubahnya mayat usang
yang tak diperdulikan orang…

Bosan,,
bosan aku dengan segala keterpurukan
terpenjara dalam keterpaksaan
kemunafikan diri yang tak berakar
namun tinggi menjulang arang…
kebisuan yang buat ku terpuruk dalam usang
tak mengerti harus apa tuk hadapinya…
Hingga aku tak diperdulikan mereka,,
atau aku yang tak perdulikan meraka ???
sampai kini,, tak lagi ada interaksi antara aku dan mereka…

Mungkin pilihan Ku untuk tetap bisu
biarlah,,, untuk tetap seperti itu…
Hingga nanti,,,
akan ku akhiri sendiri…

pada Suatu masa,,, nanti…

Dia lagi…

aiihh,,,
lagi,,lagi,, karena sunyumnya
terpesona melihat keanggunannya
buat ku kembali ingin mengenalnya
yaahh,,
dengan mengenalnya-pun
buat ku sudah jauh dari kata cukup…
Tak sadar,,
kini aku tengah benar – benar gila di buatnya
EntahLah
Mendekati untuk mengajaknya bicara saja aku tak berani
bawaan pengaruh buruk masa lalu,,
mungkin…

Tapi,, yaa biarlah..
aku ingin biarkan semua berjalan dengan sendirinya
Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk hambanya… (penyemangat pribadi.. :D)

Kita liat aja nanti…

Jakarta, 4 maret

pelarian kepastian

Berjalan dalam pelarian
Kejar – mengejar dengan dentuman detik yang bergemuruh
Entah hingga kapan…

Aku memang tak pernah paham maksud tuhan
banyak hal yang dijadikannya teka – teki
kepastian itu seperti tak berhak dimiliki manusia
tapi, mungkin memang itulah tinta yang telah di keringkannya…

Tentang sebuah tanya dalam tawa
menyisakan jawaban tak bertema
Tentang hakikat ketuhanan yang maha segala daya
yang juga menyisakan tanya tanpa jawaban juga pemahaman…

Untuk sebuah tanya tak terjawab
kepastian tuhan yang tak pernah bisa ku mengerti,,,
terlebih ku pahami,,,

Bayangan kuat akan semua keleluruhan agama
bercampur keleluhuran budaya
membaur hingga tak membeda…

Kita memang tidak pernah punya jawaban yang pasti
karena setiap orang berbeda pendapat
juga keyakinan…

jadi,, iaa…
kita harus berani mengambil keputusan,,,
sekalipun itu tidak akan pernah pasti…
atau kita akhiri saja…
karena kesemuanya itu memang tidak ada kejelasan buat kita…
Tapi aku tahu,, kita masih punya pilihan
dan itulah kepastian tuhan untuk kita…

jakarta, 24 Feb