Platonic Love

sederhana, Saya rasa semua manusia pada awalnya misterius
lalu mereka mulai saling mengenal dan berbagi cerita
berusaha mengerti satu dan lainnya
lalu merasa cocok dan menjalin hubungan

Berkembang sesuai arus
Bertahan, berarti harus survive
atau jatuh dan berdiam ditempat
dan akan begitu seterusnya, berputar pada porosnya.
yang mereka bilang porosnya itu yaa cinta…

Tapi. . .

mengenai cinta. .

apa semua hanya akan berputar pada satu poros itu??

untuk sebagian orang mungkin ada yg jawab iyaa atau tidak

buat saya, iyaa dan tidak adalah satu jawaban, namun berbeda penempatan

Tidak, karena jika hanya berputar pada satu poros
itu artinya saya tidak sedang berputar
berdiam ditempat tepatnya
mencari celah untuk masuk pada poros yang sama,
namun terpental. . entahlahh . .

Iyaa, karena memang poros itu adalah bentuk cinta kita pada tuhan
Platonic Love
tak mengerti
tak punya alasan pasti mengapa kita mencintainya
namun memang begitulah seharusnya harmonisasi hamba pada tuhannya
semua hadir dengan kesadaran akan cinta dan kasih sayang.

Tangis Untuk adikku #End

Setahun kemudian kemudian aku menikah, lalu tinggal di kota. Suamiku mengajak orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka bilang, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, dia bilang “Kak, jagalah mertuamu disana. aku akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur di pabrik tempatnya berkerja. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan, tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku mendapat pekerjaan untuk memperbaiki sebuah kabel bertenaga tinggi, seketika ia mendapat kecelekaan tersengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi menjenguknya, melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer ??, Manajer tidak akan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya ??”

Dengan wajah tersenyum, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, akan seperti apa nanti kata orang ??”

Mata suamiku dipenuhi air mata, kemudian aku menimpalinya “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?”, sambil tersenyum Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30, ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara pernikahan-nya itu bertanya kepada adikku, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berfikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
“Ketika saya pergi sekolah SD, — SD saya berada pada dusun yang berbeda. — Setiap hari saya dan kakak berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tangan saya, Kakak memberikan satu dari kepunyaannya pada ku. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaganya dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah keluar dari bibirku, dengan terbata, kucoba tuk membalasnya, “Dalam hidupku… orang.. yang paling aku berterima kasih padanya.. ialah adikku…” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan pernikahannya, air mataku kembali turun membanjiri wajahku yang terbalut kerudung merah anggun pemberiannya dulu.
Sungguh aku sangat menyayangi mu adikku…

End… ­čÖé

Dari dan untuk adikku tersayang

Dari dan untuk adikku tersayang,,
yang sedang belajar mengenali hati kecilnya…
Semoga kamu terus dalam tuntunanNya dee…
karena Dia yang maha membolak – balikan hati kitaa…

-- surat untuk Fandi --
Dear Fendi…Haii fen,,
apa kabar mu malam ini..
aiihh,,
terdengar basii sepertinya…yaa feen..
Hhmm,, yang penting bagiku
semoga kamu tetap menjadi yang terhebat
diantara kumpulan bintang itu…Feen..

kamu tahu..
malam ini…
aku disini,,
Sendiri…
menatap indah langit berseri
berbagi canda dan tawa bersama bintang malam
saling berkedipan, menggoda..
aiihh,,
merona merah pipi ku dibuatnya..

Hhmphh,,
Seandainya kamu juga disini..
bersamaku dan para bintang malam ituu
mungkin pipi ku ini akan semakin memerah,,
bukan..bukan karena marah…
tapi karena aku malu terhadap mu..Fendii..

kamu tauu..
Setiap malam..
tiap sepi itu menaungi ku..
tiap langit itu menemani ku..
Setiap bintang itu menggoda ku..
tanpa bisa ku kendalikan,,
tangan ku hendak melukis rupa mu disana..
bersama kumpulan rasi bintang..
agar kamu terlihat lebih sempurna..
ahh,,
bahkan tanpa kumpulan bintang pun…
kamu tetap sempurna di mata ku feenn…

bersama kesempurnaan itu..
kamu terbang bebas dalam hayal ku
menyisakan sakit disana…
membuat ku terus mencari,,
asal muasal sakit itu..
hingga kutemukan makhluk bernama RINDU
perlahan tapi pasti iaa teruss menjalari qolbu
membuat semua begitu dalam…
hingga menciptakan makhluk baru bernama CINTA
dan sekarang..
tanpa ku sadari…
makhluk itu tumbuh membesar dengan sendirinya dalam hati kecil ku….

written by :: my special sister Alafyhanne

*demi menjaga privasi,,
adikku minta di tulis nama belakangnya saja sebagai pengarang

Tangisan Untuk adikku #3

<- - - On previously

Dengan uang yang di hasilkan ayahku dari meminjam ke seluruh dusun di kampungku, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai di tahun ke-3 ku di unversitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seseorang penduduk dusun mencariku?, dalam bimbang aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor, tertutup debu, semen, dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu itu adikku?”, dengan tersenyum dia menjawab “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu..”

Aku terenyuh, tak terasa air mata menetes dari wajahku. Aku menyapu debu-debu yang ada pada adikku, dengan tersedak dalam kata, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun yang terjadi! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilan mu…”, dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya di kepalaku, dengan tersenyum senang dia bilang, “Aku lihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir kakak juga harus memilikinya, agar terlihat lebih cantik, dan ternyata benar, kamu memang terlihat lebih cantik kak..”

Aku tak dapat menahan diri lagi, tanpa babibu, kutarik adikku yang menyebalkan itu dalam pelukanku dan kembali aku menitihkan air mata lagi…
Tahun itu, ia berusia 20, dan Aku 23.

Kali pertama aku membawa teman pria ku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Tak lama ia main di rumah ku, namun kegembiraan terlihat jelas dari raut wajahku.

Setalah ia pulang, aku menari-nari di depan mbo, seperti gadis kecil yang habis di belikan lolipop, “mboo, aku sangat bahagia sekali kali ini, tapi tidak perlulah mbo menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membersihkan rumah kita ini!”, dengan senyum ia menyangkal perkataanku, “Itu adalah pekerjaan adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku berlari menuju kamar kecil adikku dekat pintu depan rumah. Dengan salam, aku masuk kedalam ruangan kecil itu, melihat wajahnya yang kurus, terasa seperti seratus jarum menusukku,begitu dalam. Dengan lembut aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan kemudian membalutnya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakanya agar suasana sedikit mencair,
“Tidak kak.. tidak sakit” dengan tersenyum simpul ia melanjutkan “Kamu tau kak, ketika aku berkerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak akan menghentikanku untuk terus bekerja dan…” ditengah kalimat itu ia berhenti, ketika melihat ku membalikan tubuh memunggunginya, dan air mataku kembali jatuh, mengalir deras melewati balutan kerudung merah yang pernah ia belikan bulan lalu pada ku sebagai hadiah ulang tahun ku katanya.
Dan seperti jepit rambut kupu-kupu, ia juga berucap dengan tersenyum, “Kakak akan jauh lebih anggun dengan kerudung merah ini, aku yakin..”
Tahun itu, adikku berumur 23. Aku berusia 26.

to be Continue.. ­čÖé

ingin mengingatnya..

Pelita jelita…
boleh aku menuliskan sesuatu,,
Tentang kita…

..Hening..

Ahh maaf,,
tak pernah ada “ kita ” yang perlu ku tuliskan
yang ada hanya kau,,duniamu,,dan kisahmu yang tak pernah lagi ku dengar kini…

aku sendiri tak yakin dengan goresan ini,,
terkadang,,
kau terlihat bagai malaikat penolong,
bintang kecil,,namun paling indah kemerlapnya,
seorang teman kebanyakan,
perempuan sok kuat dan menyebalkan,
bahkan balita yang perlu dibantu tuk membuat segelas susu..

Sampai berbagai hal tentang duniamu…
tentang keingintahuanmu,,yang membuat kita akhirnya saling kenal..
tentang kisahmu,,yang ternyata mempertemukan kita kala itu..
tentang ke-egoisanmu,,yang membiarkan ku bodoh dalam mimpiku sendiri..
tentang karakter lucu mu,,yang ingin selalu kurindu..
tentang paras anggunmu,,yang tak pernah lepas dalam hayalku
tentang kau dan Semua hal tentang kisahmu,,yang justru membuatku ingin mengenalmu lebih dari siapapun…

Kesiasiaan ??
ahh,,tidak juga…
paling tidak dengan motivasi itu aku bisa menjadi ” seseorang

dan jika sekarang aku mulai mengenang kembali waktu itu,
ada senyum disana,,
tentang romantisme masa kecil yang tak tergantikan,
tentang sebuah semangat yang berkobar hanya dr sms2 yang kau kirimkan,
tentang semuanya.
walau ada juga perih terselip,
itu biasa,,warna indah dalam setiap goresan yang kita ukir…

Mungkin ini adalah goresan ke-sekian ku untuk mu,,tentang dunia kita yang tengah jauh beda berkembang…
bersamaan dengan kutorehkanya goresan ini,,aku akan mulai mencoba menata masa depan ku sendiri..
Tak peduli akan sejelek apa imej ku di matamu nanti,,mungkin juga torehan ini di baca orang lain yang tak berhak..
aku mencoba untuk tidak perduli..

Selamat datang tahun baru,,selamat datang masa depan ku…
makasih untuk kenangan dan masa kala itu,,,

Tangis untuk adikku #2

<- - - On previously

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap balutan tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, “Kedua anakku memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”, mbo mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?? Bagaimana mungkin kau bisa membiayai keduanya sekaligus??”

Mendengar itu, adikku yang berada di dalam kamar ketika itu beranjak keluar, ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, sudah cukup aku dengan membaca banyak buku saja.” ayah yang mendengar, seketika itu juga mengayunkan tangannya dan menampar wajah adikku, “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya??, bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!”.

Dan ayah memang seorang yang tidak pernah menarik satu huruf pun yang keluar dari mulutnya, ia pergi mengetuk setiap rumah di dusun tempat ku tinggal untuk meminjam uang.

Aku keluar dan menjulurkan tanganku selembut yang kubisa ke wajah adikku yang membengkak setelah di tampar ayah, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya hingga selesai, kalau tidak, ia tidak akan pernah bisa meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan sekolahku ke unversitas.

Tapi siapa sangka adikku begitu keras dengan pendiriannya,mungkin menuruni ayahnya. Kesesokkan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering, dia menyelipkanya ke samping ranjangku. Dan ia meninggalkan secarik kertas yang di taruhnya di bawah bantalku :

“Kak, masuk unversitas tidaklah mudah, aku akan pergi mencari kerja, dan mengerimimu uang.”,

Aku memegang kertas itu di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata mengalir deras, sampai suaraku pun hilang. Tahun itu, Adikku berusia 17, aku 20.

squel #3 - - - >

Tangisan Untuk Adikku #1

Aku di lahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari – hari yang di lalui oleh orang tuaku hanyalah membajak tanah kering. aku juga mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Perangainya begitu menyenangkan, walau kadang suka membuatku begitu jengkel.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan unik, yang mana ketika itu sedang tren-nya dikalangan setiap gadis di dusunku, Aku mencuri lima puluh ribu dari laci ayahku, dan tak lama ayah segera menyadarinya. Beliau membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?”, dengan keras dan lantang beliau bertanya. Maklum saja, ayah memang keras perangainya, apalagi setelah ibu meninggalkan kami bertiga.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara mengakui perbuatan yang telah ku lakukan. Ayah tidak mendengar siapa pun menjawab pertanyaannya “Baiklah kalau begitu, kalian berdua layak dipukul !” Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.

“Ayah, aku yang melakukannya !” tiba-tiba adikku bergerak dan mencengkram tangan ayah.

Mendengar itu, ayah sangat marah, tongkat bambu panjang yang ia pegang terus menerus menghantam punggung adikku hingga beliau kehabisan nafas. setelah itu ia duduk di atas ranjang bata yang kami miliki, dan terus menerus memarahi kami berdua “Kamu sudah belajar mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apalagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang?…kamu layak dipukul sampai mati!, Kamu pencuri tidak tahu malu !”

Malam itu, mbo dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Mbo adalah adik ayahku, pribadinya berbeda sekali dengan kakaknya, dia sangat menyayangi kami berdua, dan pengganti ibu bagi kami. Tubuh adikku penuh dengan luka, tapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung raung mengingat kejadian siang tadi. Adikku datang dan menutup mulutku dengn tangan kecilnya serta membersihkan air mataku dengan saputangan kusamnya “Kaakk, jangan menangis lagi sekarang yaa.. semuanya sudah terjadi.” dengan senyumnya, ia membuatku sedikit berhenti menitikan air mata, lalu aku mendekapnya dalam pelukanku.

Walau tengah bertahun tahun ku lewati setelah insiden tersebut, aku masih selalu membenci diriku sendiri karena tidak memiliki keberanian untuk maju dan mengaku pada ayah. Kejadian itu seperti baru terjadi kemarin, Aku tidak pernah akan lupa wajah adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun dan aku 11.

Squel #2 - - ->