Tangis Untuk adikku #End

Setahun kemudian kemudian aku menikah, lalu tinggal di kota. Suamiku mengajak orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka bilang, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, dia bilang “Kak, jagalah mertuamu disana. aku akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur di pabrik tempatnya berkerja. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan, tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku mendapat pekerjaan untuk memperbaiki sebuah kabel bertenaga tinggi, seketika ia mendapat kecelekaan tersengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi menjenguknya, melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer ??, Manajer tidak akan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya ??”

Dengan wajah tersenyum, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, akan seperti apa nanti kata orang ??”

Mata suamiku dipenuhi air mata, kemudian aku menimpalinya “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?”, sambil tersenyum Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30, ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara pernikahan-nya itu bertanya kepada adikku, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berfikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
“Ketika saya pergi sekolah SD, — SD saya berada pada dusun yang berbeda. — Setiap hari saya dan kakak berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tangan saya, Kakak memberikan satu dari kepunyaannya pada ku. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaganya dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah keluar dari bibirku, dengan terbata, kucoba tuk membalasnya, “Dalam hidupku… orang.. yang paling aku berterima kasih padanya.. ialah adikku…” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan pernikahannya, air mataku kembali turun membanjiri wajahku yang terbalut kerudung merah anggun pemberiannya dulu.
Sungguh aku sangat menyayangi mu adikku…

End… šŸ™‚

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s