Tangisan Untuk adikku #3

<- - - On previously

Dengan uang yang di hasilkan ayahku dari meminjam ke seluruh dusun di kampungku, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai di tahun ke-3 ku di unversitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seseorang penduduk dusun mencariku?, dalam bimbang aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor, tertutup debu, semen, dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu itu adikku?”, dengan tersenyum dia menjawab “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu..”

Aku terenyuh, tak terasa air mata menetes dari wajahku. Aku menyapu debu-debu yang ada pada adikku, dengan tersedak dalam kata, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun yang terjadi! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilan mu…”, dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya di kepalaku, dengan tersenyum senang dia bilang, “Aku lihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikir kakak juga harus memilikinya, agar terlihat lebih cantik, dan ternyata benar, kamu memang terlihat lebih cantik kak..”

Aku tak dapat menahan diri lagi, tanpa babibu, kutarik adikku yang menyebalkan itu dalam pelukanku dan kembali aku menitihkan air mata lagi…
Tahun itu, ia berusia 20, dan Aku 23.

Kali pertama aku membawa teman pria ku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Tak lama ia main di rumah ku, namun kegembiraan terlihat jelas dari raut wajahku.

Setalah ia pulang, aku menari-nari di depan mbo, seperti gadis kecil yang habis di belikan lolipop, “mboo, aku sangat bahagia sekali kali ini, tapi tidak perlulah mbo menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membersihkan rumah kita ini!”, dengan senyum ia menyangkal perkataanku, “Itu adalah pekerjaan adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku berlari menuju kamar kecil adikku dekat pintu depan rumah. Dengan salam, aku masuk kedalam ruangan kecil itu, melihat wajahnya yang kurus, terasa seperti seratus jarum menusukku,begitu dalam. Dengan lembut aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan kemudian membalutnya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakanya agar suasana sedikit mencair,
“Tidak kak.. tidak sakit” dengan tersenyum simpul ia melanjutkan “Kamu tau kak, ketika aku berkerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak akan menghentikanku untuk terus bekerja dan…” ditengah kalimat itu ia berhenti, ketika melihat ku membalikan tubuh memunggunginya, dan air mataku kembali jatuh, mengalir deras melewati balutan kerudung merah yang pernah ia belikan bulan lalu pada ku sebagai hadiah ulang tahun ku katanya.
Dan seperti jepit rambut kupu-kupu, ia juga berucap dengan tersenyum, “Kakak akan jauh lebih anggun dengan kerudung merah ini, aku yakin..”
Tahun itu, adikku berumur 23. Aku berusia 26.

to be Continue.. 🙂

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s