Tangis untuk adikku #2

<- - - On previously

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap balutan tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, “Kedua anakku memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”, mbo mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?? Bagaimana mungkin kau bisa membiayai keduanya sekaligus??”

Mendengar itu, adikku yang berada di dalam kamar ketika itu beranjak keluar, ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, sudah cukup aku dengan membaca banyak buku saja.” ayah yang mendengar, seketika itu juga mengayunkan tangannya dan menampar wajah adikku, “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya??, bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!”.

Dan ayah memang seorang yang tidak pernah menarik satu huruf pun yang keluar dari mulutnya, ia pergi mengetuk setiap rumah di dusun tempat ku tinggal untuk meminjam uang.

Aku keluar dan menjulurkan tanganku selembut yang kubisa ke wajah adikku yang membengkak setelah di tampar ayah, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya hingga selesai, kalau tidak, ia tidak akan pernah bisa meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan sekolahku ke unversitas.

Tapi siapa sangka adikku begitu keras dengan pendiriannya,mungkin menuruni ayahnya. Kesesokkan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering, dia menyelipkanya ke samping ranjangku. Dan ia meninggalkan secarik kertas yang di taruhnya di bawah bantalku :

“Kak, masuk unversitas tidaklah mudah, aku akan pergi mencari kerja, dan mengerimimu uang.”,

Aku memegang kertas itu di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata mengalir deras, sampai suaraku pun hilang. Tahun itu, Adikku berusia 17, aku 20.

squel #3 - - - >

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s