Growing Up

Grow Up Tumbuh menjadi tua merupakan hal yang tidak bisa kita hindari. Detik waktu yang selalu berputar entah mengarah kemana, tidak pernah bisa berhenti, semakin kita berusaha mengejar semakin kita tidak sadar akan kecepatan waktu yang tidak pernah bisa kita tandingi. Kemudian, dalam satu waktu kita menyadari, We are getting old!

Ketidak pahaman akan apa yang dijalani, hanya mengikuti apa yang telah digariskan mungkin. Berhenti pada satu titik kebuntuan, yang mungkin kita sebut kesadaran. Namun, pada kenyataannya ketika mata kita buka yang dapat kita lihat hanya hitam gelap dan kosong? Otak kita mencoba menerjemahkan kemudian, hingga munculah 2 pilihan untuk tetap masuk dalam gelap atau memutar kembali haluan yang sudah digariskan. Tapi apa kita tahu, apa yang memang benar-benar tuhan gariskan?

Kedewasaan menggambarkan segala organisme yang telah matang dalam menentukan berbagai pilahan yang selalau muncul dalam lingkar kehidupan. Periode diatas merupakan proses pematangan yang sedang dilalui. So, what should we do?

Decided!

Pada akhirnya, seperti apa yang saya tuliskan diawal, bahwa semua akan dan memang menjadi satu hal yang pasti kita lalui, tidak dapat dihindari. Hanya apa yang ada setelahnya yang kemudian dapat kita pahami bahwa kita harus, tidak hanya menjadi tua tapi juga dewasa. Matang dalam bersikap, juga dalam menimbang, memutuskan segala apa yang kita pilih untuk kita jalani.

Bahwa penyesalan itu memang selalu hadir terlambat, tapi untuk apa kita kecewa? Bukankah keterlambatannya juga karena suatu alasan? Yang mungkin kita tahu, hanya kita belum sadar. Who know’s?

Title us

Terbuai dalam alunan dunia
berirama mengalun melodi surga
aku terbenam
minikmati kelam

Image

Kau mempesona Indah
aku membuai bergairah
kita terperosok dalam jurang yang megah

mungkin aku harus segera menyambung tali
agar kita dapat segera naik kembali, menyadari
kemegahan membuat kita lupa diri
bahwa diri kita belum ada sebesar biji sawi

Pilihannya kini
Kita hancur bersama menikmati
lalu saling meninggalkan pergi
atau
kita rakit bersama memperbaiki
menahan diri, sambil menikmati

Bertahan

Kesemuanya mengandung segala konsekuensi
kita sukai atau tidak,
harus tetap kita jalani…

Ayah..

Aku terlalu sakit melihat kau seperti ini, tak ada yang pernah mengira bahwa tuhan terlalu menyayangi mu hingga memberikanmu penyakit yang terlalu berat untuk menghapuskan segala kesalahan yang pernah kau lakukan, bukan hanya untuk mu, tapi juga untuk kami semua anak-anak mu. Tak ada yang pernah menyangka akan terserang saraf mu yang dapat melumpuhkan segala aktivitas yang kau lakukan sehari-hari, tidak juga kami. Kau terlalu hebat bagi kami untuk sebuah penyakit, pah.

Segala usaha kami lakukan untuk dapat membuat mu kembali menjadi seorang yang dulu, ayah yang tak pernah lelah berusaha, tak pernah gentar menyerah, tak pernah henti meminta kepada tuhan untuk kami semua, anak-anak mu. Terlalu pedih aku, untuk sadar melihat mu berhenti menaklukan dunia agar dapat kami tinggali guanya. Duduk diam dikursi rodamu yang bahkan kau beli sendiri karena kami selalu menunda untuk membelikanya untuk mu, membuatku tersiksa. Aku yakin kau masih bisa sembuh, pah. Kembali beraktifitas seperti sedia kala, kembali memarahi kami yang suka menyepelekan pendidikan, kembali membentak kami ketika kami lupa waktu ibadah.

Aku benci sikap kerasmu, tapi aku sangat mengagumi keteguhanmu dalam apapun itu, mempertahankan maratabat keluarga. Harga diri hanya dapat dibeli oleh peraturan tuhan, itu harga mati. Kita boleh miskin tak punya apa-apa, tapi jangan sampai kita dilecehkan orang. Kita bisa kaya, punya segalanya, tapi jangan pernah lupakan sholat. Begitulah kira-kira wejanganmu kepadaku, anakmu yang mungkin terlalu bengal menghadapi dunia.

Terlalu banyak dosaku menyepelekan segala nasihat mu, pah. Selalu saja masuk kuping kiri dan keluar kembali dikuping kanan, tak ada yang kuhiraukan. Dosaku terlalu melimpah terhadapmu, pah. aku menyadari itu…

Mungkin juga sakit mu itu buah dari segala dosaku sedari kecil terhadap mu.

Entah bagaimana aku dapat menebus semuanya, dapat membanggamupun aku sulit. Sebisa mungkin yang dapat kulakukan hanya menyempatkan waktu, ditengah waktu yang tersisa mungkin, hadir untuk merawatmu, merangkulmu untuk berjalan, memopoh segala keperluanmu, segalanya… bahkan jika mendorong kursi rodamu mendaki tebing untuk mengantarmu sembahyang dimasjid dekat rumah dapat menebus semua kesalahanku terhadapmu dan meringankan segala penyakit mu akan kulakukan.

Tidak pernah aku bermaksud sombong untuk menuliskan ini semua, berharap imbalan, terlebih pujian. Aku hanya ingin kau tahu, pah.. kulakukan semua itu dengan ikhlas, dengan penuh kesadaran akan semua dosaku terhadapmu. Tapi kenapa semakin hari aku melakukan semua untukmu, semakin kau berlebihan terhadap ku?, seperti semua hal yang ingin kau lakukan namun tidak bisa karena penyakitmu lantas menyuruhku untuk ku melakukannya. Tidak bermaksud untuk mengeluh, tapi segala yang kau perintahkan terhadap ku, membuat aku ini seolah ‘pelayan’mu. Sehina itukah pengabdianku kepadamu? Atau aku hanya berlebihan menganggap semua…

Maaf jika memang aku berlebihan mengartikan segala permintaanmu, pah. Tapi aku pun mempunyai kegiatanku sendiri yang terkadang tidak ingin diganggu. Aku membagi ¾ waktu ku untukmu, masih kurangkah itu? lalu kapan waktu ku mengejar segala cita untuk membanggakanmu? Bahkan jika diminta untuk memilih, berbakti kepada orang tua atau mengejar cita-cita, akan dengan tegas aku jawab yang pertama, tapi aku mohon, pah.. jangan serta merta menjadikan baktiku ini sesuatu yang percuma kulakukan karena segala perasangkaku terhadapmu. Hanya sebutir kewajaran yang kuminta darimu untuk segala keterbatasan yang dapat kulakukan untukmu, pah.. ku mohon kau mengerti.

Posting Akhir Tahun II

                29 Desember 2012

Masa itu adalah ketika kita benar-benar belajar untuk memahami semua, tidak hanya sekedar kilasan semu namun lintasan waktu yang akan menjadi sesuatu.

Semua memang akan selalu datang silih berganti, berputar pada sekian likuk persimpangan kehidupan. Mereka, atau kita yang datang pasti akan pergi. Akan selalu ada masanya bahwa pada waktunya kita hendak berfikir hanya untuk diri sendiri.

Tahun yang lama akan segera berlalu, masa yang lama hendak berganti pada era yang baru pula. Sisanya hanyalah tinggal bagaimana komitmen kita, sekalipun dalam perpisahan namun tetap pada satu alur perjuangan yang sama. Berat adalah ketika kita merasa semua itu tidak mungkin dapat dilakukan, walaupun mungkin selalu ada kata “bisa” dalam melakukan sesuatu namun sulit, itulah berat. Amanah itulah yang mungkin masih dapat kita pegang sebagai komitmen kita. Menjadikan kata “bisa” kepada taraf ringan, seperti yang biasa kita lakukan dalam lingkup amanah persahabatan. As one as united, yes we’re.

Posting Akhir Tahun I

Dia datang mengawali semua, ketika semua kepercayaan diri hadir untuk mengawali dunia baru dalam lembaran kehidupan. Semua motivasi terkumpul padanya saat itu, hingga saat ini…

Setahun lebih berlalu sejak pandangan itu membuat pilu. Malu untuk mengaku bahwa semua itu nyata, yaa semua itu nyata.

Tidak pernah aku berniat untuk menyembunyikannya, apa lagi memendamnya. Hanya saja, merasa tidak percaya diri untuk dapat bersanding bersamanya. Bukan berarti mengucilkan diri kemudian, sebaliknya aku berusaha lebih positif untuk mendekatinya dengan bersama dalam setiap momen hidup yang dilewatinya. Ingin sekali rasanya berada dalam setiap detik hidupnya, namun cukuplah menurutku untuk saat ini, terus bersamanya, bersama sahabat-sahabatnya yang juga merupakan keluarga bagiku.

Saatnya nanti dia akan tau, aku jamin itu. Ketika kepercayaan diri dapat terkendalikan, ketika aku mulai bisa dewasa dalam membawa semua. Kuncinya ada pada kepercayaan dan tanggung jawab, serta yang paling inti adalah konsistensi ku dalam semua itu. Bismillah…

21 Desember 2012

Sedang semangat saja

Entaahh, rasa-rasanya aku tak ingin malam ini berlalu, sesuatu yang tak pernah ingin ku lewati begitu cepat. andai setiap malam suasananya seperti ini, akan penuh sekali pastinya gudang ini…

Aku tak pernah bisa menyadari, ketika waktu berjalan begitu cepat. Atau justru aku yang melambatkan langkah? setahun sudah semua berlalu, sejak perjalanan baru itu kumulai, kepolosan itu masih sangat melekat dalam ingatan ini.

Tentang batas akhir rencana tuhan yang tak satu jiwa pun tahu.

“Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua, berbahagialah mereka yang mati muda”~ Soe hok gie. Banyak hal yang ku pelajari dari orang itu, aku belajar bagaimana caranya membentuk kerangka, kerangka kata tak terucap. Indah terbangun dalam satu prosa aliran kata yang dianggap benar …

Bersih – bersih rayap digudang kata

Sudah lama rasanya ingin menuliskan ini.
Renovasi gudang beserta isinya, tapi bingung bahan yang ingin digunakan, jadilah gudang ini tak pernah lagi ku tengok. sarang rayap mengitari ruangan ini, membuat segalanya rapuh.. yaa rapuh..

2 bulan..

Terakhir aku merangkainya rasanya 2 bulan lalu, itupun sudah banyak rayap yang menggrogoti ruangan ini, hingga malas rasanya untuk sekedar melihat-lihat. Bahkan aku hampir lupa dimana meletakan kuncinya, untung sempat teringat aku meletakannya dibagian dalam jendela biru tua. Kini warnanya telah menghijau, karena lumut yang melapisi, sudah saatnya merapihkan.

Bagaimana kalau kita membuat rumah baru…

ahh tapi bingung mencari alamat, sebaiknya perbaiki gudang ini saja. Dimulai dari bersih – bersih rayap, agar tak ada lagi yang membuatnya rapuh. Mulai…🙂